Senin, 02 Desember 2019

Puisi Absurd Coach KMC

Judul-judulan.

Karya Dwi Hermawan dan Siti Al-Muhajirin

Dingin ....
Tidak ada kehidupan.
Mentari tak bersinar lagi. 😱😱😱
Dan kau pun pergi.
Bersama hujan yang mulai mereda ☹☹☹
Rasa itu hanyut, pergi ke sembarang arah.

Angin menerbangkan asa yang tidak seberapa.
Terhempas, melayang, jatuh bertubi ke dasar tanah.
Terkubur bersama harapan-harapan yang telah pupus.
Membenamkan kisah pilu di bawag pusara.

Termangu pada kenangan-kenangan yang tak dapat terulang lagi.
Sesak, hanya itu yang terasa ....
Tiada penawar bagi hati yang terluka.
Selain kasih dan cinta yang pernah kau beri.

Tiada lagi bisa kaki-kaki untuk melangkah menuju masa depan.
Yang tersisa hanyalah bayang semu, tentang kisah kasih kita.
Bayanganmu terbias pada pelupuk mata yang enggan untuk dienyahkan.
Ingin kubinasakan, agar kenanganmu tak membuntuti setiap saat.
Pintu yang terkunci rapat ini akan selalu terbuka untukmu yang mencari sandaran hati.
Memberi seteguk kebahagiaan, sesuap cinta dan sebejana rindu.

Sabtu, 30 November 2019

Bertemu Dengan Penulis Somplak dan Editor Tukang Ngambek. Review by Ny Queen

Judul: Writer vs Editor.
Penulis: Ria n. Badaria.
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jumlah Hal: 311 halaman.
ISBN: 978-979-226-5866.
Tahun terbit: 2011.
Genre: Metropop.







Novel karya Ria n. Badaria bergenre metropop ini awalnya saya kira adalah sebuah buku nonfiksi untuk bekal seorang penulis, mengingat judulnya yang bermakna penuh dengan ilmu. Namun, perkiraan saya salah. Ria n Badaria sukses membuat saya terkecoh hanya dengan judulnya.

Novel ini berkisah tentang seorang tokoh wanita bernama Nuna yang punya cita-cita ingin menjadi seorang penulis novel yang sukses. Namun, rencana hidupnya itu kandas ketika ia menemui berbagai penolakan dari penerbit hingga membuatnya terpaksa bekerja sebagai pelayan di toko swalayan.

Pelencengan rencana hidup yang ia anggap kesialan itu tidak berlangsung lama setelah ia mendapat surat dari Global Books.
Novel perdananya yang membuat ia menikmati hasil dari buah pikiran dan jari lentiknya, sayangnya, novel perdananya itulah yang membuat ia menjumpai kesialan baru lagi.

Rengga, sosok editor rese yang gampang ngambek harus bekerja sama dengan penulis seperti Nuna yang penuh dengan perhitungan sampai-sampai untuk membeli ponsel dia enggan, padahal di zaman sekarang yang serba modern ini, ponsel adalah salah satu benda yang paling dibutuhkan.


Untuk itu, Rengga jelas pusing sendiri menghadapi Nuna, terlebih gadis itu memberikan identitas palsu sekaligus nomor telepon hingga Rengga kelimpungan menghubungi Nuna untuk mendiskusikan perihal editing naskahnya. Padahal seperempat royalti sudah diterima dan editing naskahnya molor berkat 'kerja sama' Nuna yang luar biasa.

Kisah cinta dan alurnya ngalir begitu saja dan diangkat dengan apik menggunakan gaya bahasa kekinian. Konfliknya pun bikin greget. Bukan hanya konflik, karakter tokohnya juga sangat menjiwai peran. Hingga membuat saya ngakak membayangkan interaksi Nuna dan Rengga.

Untuk ending, saya agak kecewa karena tidak sesuai dengan harapan saya. Endingnya ngegantung seperti jemuran saja. Padahal saya ingin sekali menyaksikan kelanjutan kisah cinta mereka setelah Rengga meninggalkan Nuna dua tahun lamanya.

Ria n. Badaria sukses membuat saya greget ingin banting pintu menahan sesak. Terima kasih untuk Ria n. Badaria karena telah menyuguhkan cerita yang membuat saya begadang demi membacanya.

Sabtu, 09 November 2019

Review novel Incognito karya Windhy Puspitadewi

Judul: Incognito
Penulis: Windhy Puspitadewi
Design cover: Rizal Abdillah Harahap
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-0523-3






Incognito adalah karya ketiga Windhy Puspitadewi yang saya baca setelah Let Go dan Touch series. Novel ini berfokus pada "penjelajahan waktu".

Dari blurb-nya saja saya sudah membayangkan akan ikut "menjelajah" waktu. Terlebih saat di sana tertulis mereka akan bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah yang cukup terkenal.

Terkenal? Yup! Dan itu memang benar adanya. Apa yang dikatakan Windhy Puspitadewi bahwa ini adalah novel "mahal", saya mengakui benar adanya. Selain karena sang penulis harus membeli buku-buku sejarah yang lumayan mahal serta riset sana-sini di internet, "kemahalan" novel ini memang benar-benar terasa. Banyak ilmu yang terdapat di dalamnya.


Meski mengangkat cerita yang berkaitan dengan sejarah, cara penyajian Windhy Puspita pada novelnya terasa begitu asyik hingga saya sendiri pun yang--jujur saja--bosan bergelut dengan hal-hal berbau sejarah, malah menjadi tertarik dengan sejarah itu sendiri. Bahkan saya bisa belajar Bahasa Belanda dan Inggris secara otodidak.

Novel ini berkisah tentang Sisca dan Erik yang bertemu dengan Carl, seseorang yang berasal dari masa lalu dan harus ikut terseret bersama Carl dalam menjelajah waktu.

Kalau dibilang menjelajah, saat membaca novel ini, saya benar-benar merasa menjelajah di dalamnya.

Pertemuan-pertemuan Sisca, Erik dan Carl dengan tokoh-tokoh terkenal di masa lalu pun menjadi daya tarik tersendiri menurut saya.

Saat membaca novel ini, pada halaman 44, entah kenapa saya langsung bisa menebak endingnya--siapa Carl sebenarnya. Meski begitu, rasa penasaran saya masih membumbung tinggi. Kalau memang benar endingnya sesuai dugaan, lalu, bagaimana bisa sampai ke titik tersebut?

Selain alurnya yang menyenangkan dan membuat saya mengenal tokoh-tokoh terkenal yang dulunya tidak saya pedulikan, bahkan saat sejarahnya dipelajari di sekolah, karakter Carl, Erik dan Sisca pun begitu kental, tidak hanya sekadar tempelan.

Erik dan Sisca memiliki satu sifat yang sama, yaitu sama-sama sarksas kalau bicara. Selain itu, Erik dan Carl pun juga seperti pinang di belah dua, keduanya sama-sama cerdas, dan meski terlihat cuek tetapi sebenarnya mereka punya rasa solidaritas yang tinggi.

Bagi pembaca yang mencari novel yang "mahal", dalam artian memiliki ilmu yang banyak di dalamnya, novel ini sangat cocok dijadikan koleksi.