Penulis: Windhy Puspitadewi
Design cover: Rizal Abdillah Harahap
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-0523-3
Incognito adalah karya ketiga Windhy Puspitadewi yang saya baca setelah Let Go dan Touch series. Novel ini berfokus pada "penjelajahan waktu".
Dari blurb-nya saja saya sudah membayangkan akan ikut "menjelajah" waktu. Terlebih saat di sana tertulis mereka akan bertemu dengan tokoh-tokoh sejarah yang cukup terkenal.
Terkenal? Yup! Dan itu memang benar adanya. Apa yang dikatakan Windhy Puspitadewi bahwa ini adalah novel "mahal", saya mengakui benar adanya. Selain karena sang penulis harus membeli buku-buku sejarah yang lumayan mahal serta riset sana-sini di internet, "kemahalan" novel ini memang benar-benar terasa. Banyak ilmu yang terdapat di dalamnya.
Meski mengangkat cerita yang berkaitan dengan sejarah, cara penyajian Windhy Puspita pada novelnya terasa begitu asyik hingga saya sendiri pun yang--jujur saja--bosan bergelut dengan hal-hal berbau sejarah, malah menjadi tertarik dengan sejarah itu sendiri. Bahkan saya bisa belajar Bahasa Belanda dan Inggris secara otodidak.
Novel ini berkisah tentang Sisca dan Erik yang bertemu dengan Carl, seseorang yang berasal dari masa lalu dan harus ikut terseret bersama Carl dalam menjelajah waktu.
Kalau dibilang menjelajah, saat membaca novel ini, saya benar-benar merasa menjelajah di dalamnya.
Pertemuan-pertemuan Sisca, Erik dan Carl dengan tokoh-tokoh terkenal di masa lalu pun menjadi daya tarik tersendiri menurut saya.
Saat membaca novel ini, pada halaman 44, entah kenapa saya langsung bisa menebak endingnya--siapa Carl sebenarnya. Meski begitu, rasa penasaran saya masih membumbung tinggi. Kalau memang benar endingnya sesuai dugaan, lalu, bagaimana bisa sampai ke titik tersebut?
Selain alurnya yang menyenangkan dan membuat saya mengenal tokoh-tokoh terkenal yang dulunya tidak saya pedulikan, bahkan saat sejarahnya dipelajari di sekolah, karakter Carl, Erik dan Sisca pun begitu kental, tidak hanya sekadar tempelan.
Erik dan Sisca memiliki satu sifat yang sama, yaitu sama-sama sarksas kalau bicara. Selain itu, Erik dan Carl pun juga seperti pinang di belah dua, keduanya sama-sama cerdas, dan meski terlihat cuek tetapi sebenarnya mereka punya rasa solidaritas yang tinggi.
Bagi pembaca yang mencari novel yang "mahal", dalam artian memiliki ilmu yang banyak di dalamnya, novel ini sangat cocok dijadikan koleksi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar